2014/12/12

Cara Mudah Membaca dan Memahami Kitab Kuning

Apa kabar kalian semua? Semoga masih selalu sehat wa alfiat dan dimudahkan dalam segala urusannya. Amin. Pada kesempatan ini, kami ingin membagi sedikit informasi terkait cara mudah membaca dan memahami kitab kuning. Ini merupakan wujud dari komitmen blog ini dalam mempromosikan pentingnya bahasa Arab di era sekarang, di samping bahasa Inggris juga. Semoga blog belajar bahasa Arab dasar ini bermanfaat. 

Oke, langsung aja ya!

Apa itu kitab kuning? Bagi kalangan santri di pesantren, istilah “kitab kuning” sudah tidak asing lagi. Kitab kuning merupakan istilah yang dipakai untuk merujuk kepada buku, atau “kitab” dalam bahasa Arab, yang berisi dan membahas sejumlah disiplin ilmu yang berhubungan dengan agama Islam. Disiplin ilmu yang terdapat di dalam kitab kuning tidak terbatas dan sangat bervariasi, mulai dari ilmu seperti fikih, hadis, tafsir, akidah, tasawuf sampai kepada ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ilmu bahasa Arab dengan seluk-beluknya seperti nahwu, saraf, balaghah dan sebagainya. Umumnya, kalau disebut kitab kuning, isinya adalah ilmu-ilmu tentang agama Islam.

Mengapa disebut kitab kuning? Penyebutan “kitab kuning” mungkin sudah lama sekali setelah ada percetakan buku di Indonesia ini. Asumsi saya karena memang umumnya di Indonesia ini, khususnya dulu, kitab-kitab berbahasa Arab yang berhubungan dengan agama Islam dicetak menggunakan media kertas yang berwarna kuning. Ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh penerbit Timur Tengah yang mayoritas mencetak buku, kitab-kitab rujukan agama Islam, menggunakan kertas berwarna putih, walaupun ada juga sebagian yang menggunakan kertas kuning. Terlepas belakangan ini, banyak juga penerbit Indonesia, seperti Dar al-Kutub al-Islamiyah Jakarta, yang mencetak menggunakan kertas berwarna putih. Penyebutan kuning secara umum berdasarkan warna kertas kitab yang bersangkutan.

Mengapa bisa membaca kitab kuning itu penting? Kitab kuning adalah sejumlah kitab yang berbahasa Arab tanpa baris alias gundul yang berisi sejumlah disiplin ilmu Islam. Seorang muslim yang baik diharapakan bisa membacanya karena itu adalah kunci untuk memahami ajaran-ajaran agama Islam sampai ke akar-akarnya. Ajaran-ajaran Islam seperti rukun shalat, tata cara bersuci, bagimana berakidah yang benar, itu semua seharusnya dipelajari dari sumber aslinya, yaitu kitab kuning daripada hanya sekedar mengandalkan buku-buku terjemahan. Di situlah pentingnya bisa membaca kitab kuning, apalagi di sejumlah tempat di Indonesia ini, seorang baru bisa dikatakan “paham agama dengan baik” kalau dia bisa membaca kitab kuning.

Bagaimana cara mudah membaca kitab kuning? Harus dikatakan, bahwa mempelajari cara membaca kitab kuning adalah mempelajari kaidah bahasa Arab itu sendiri, khususnya dalam hal maharat al-qira’ah (kecerdasan membaca). Untuk bisa membaca teks-teks berbahasa Arab, kita perlu bisa ilmu alat, yaitu nahwu dan sharaf. Nahwu adalah ilmu untuk mempelajari baris akhir suatu kata dalam bahasa Arab sedangkan sharaf adalah ilmu untuk mengetahui perubahan bentuk kata. Contohnya; buniyal Islamu ‘ala khamsin (بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلىَ خَمْسٍ). Di kalimat ini, kita baru bisa mengetahui baris akhir kata “al-Islam” sebagai “al-islamu” bukan “al-islami” atau “al-islama” dan kata “khams”, sebagai “khamsin” bukan “khamsun” atau “khamsan” itu setelah mempelajari ilmu nahwu. Begitu juga dengan ilmu sharaf, setelah mempelajarinya, kita baru bisa mengetahui kata “al-islam” di situ sebagai “al-islam” bukan “al-muslim” atau “salama”. Untuk bisa membaca kitab kuning yang terdiri dari huruf dan kata-kata Arab gundul tidak bisa terlepas dari dua ilmu alat ini. Kata sebagian orang membaca kitab kuning itu rumit sekali, saya ingin mengatakan bahwa kenyataannya memang begitu. Saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang merasa kesulitan ketika pertama kali berkenalan dengan kitab itu.

 Mungkin memang tidak ada jalan pintas untuk langsung instan bisa membaca kitab kuning, walaupun pakar-pakar bahasa Arab di Indonesia banyak merumuskan metode-metode cepat, seperti apa yang dilakukan oleh seorang kiyai di Jepara dengan karya Amtsilati-nya, tapi tetap saja kita akan dihadapkan pada kerumitan dua ilmu alat di atas tadi. Saran saya adalah mulailah dengan mempelajari dua ilmu alat itu, yaitu nahwu dan sharaf. Pelan-pelan saja, mulailah dari yang terlebih mudah dulu. Bagi yang pemula, untuk ilmu nahwu, bisa menggunakan kitab al-Nahwu al-Wadih, untuk sharaf coba kitab al-Amtsilah al-Tashrifiyyah. Setelah kalian mapan, ya tidak harus mapan juga sih, dengan dua ilmu alat tersebut, kalian nanti akan terasa lebih mudah, baik dalam memberikan baris (isykal) kata-kata maupun ketika menerjemahkannya (tarjim) kedalam bahasa Indonesia. 

Akhirnya, hanya itu dulu yang bisa saya jelaskan. Semoga artikel terkait cara mudah membaca dan memahami kitab kuning ini ada manfaatnya, silahkan dikritik kalau banyak salahnya. Maklum, kami juga masih terbatas pengalaman dan wawasan.